Info
Kamis, 19 Mei 2022

PEDOMAN PROGRAM MAGANG DOSEN KE PERGURUAN TINGGI TAHUN 2022

Diterbitkan : - Kategori : Berita / Pendidikan

Perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan memiliki peran yang sangat
besar dalam upaya pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan peningkatan
daya saing bangsa. Agar peran yang strategis dan besar tersebut dapat dijalankan
dengan baik, maka sumber daya manusia perguruan tinggi haruslah memiliki
kualitas yang maju yang dicirikan antara lain bersifat kreatif, imaginatif dan
produktif.

Tantangan pendidikan di masa yang akan datang semakin kompleks. Sistem
pendidikan masa depan menghadapi tantangan yang berbeda dengan saat ini yang
menuntut berbagai pendekatan dalam penyelenggaraan Pendidikan Tinggi.
Tantangan di masa yang akan datang bukan persaingan pengetahuan tetapi
kompetisi kreativitas, kompetisi imajinasi, kompetisi belajar, kompetisi pemikiran
yang bebas. Situasi ke depan juga banyak dihadapkan pada kondisi Volatilitas,
Ketidakpastian, Kompleksitas, dan Ambiguitas. Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan telah menyikapi hal ini yang pada tanggal 24 Januari 2020
meluncurkan beberapa kebijakan baru, diantaranya adalah kebijakan Merdeka
Belajar, Kampus Merdeka. Dalam kebijakan baru ini mahasiswa diberi hak untuk
menentukan pilihan pola belajarnya agar mahasiswa lebih lincah (agile) dalam
menghadapi kondisi sekitarnya yang selalu berubah penuh ketidakpastian dan
permasalahan yang muncul dihadapannya menjadi semakin kompleks.

Dosen adalah SDM perguruan tinggi yang memiliki peran yang sangat
sentral dalam semua aktivitas di perguruan tinggi. Dalam menghadapi situasi di
masa yang akan datang, seorang dosen bukan hanya dituntut pakar dalam bidang
kajian ilmunya (mengajarkan, meneliti, dan mengabdikannya kepada masyarakat)
tetapi juga dituntut untuk mampu berkomunikasi (verbal dan tulisan); mampu
menguasai dan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (ICT); memiliki
jejaring yang luas; peka terhadap perubahan dan perkembangan yang terjadi di
dunia luar, dan bersikap outward looking. Dalam menghadapi kebijakan merdeka
belajar, kampus merdeka tuntutan terhadap dosen menjadi lebih berat karena dosen
harus lebih kreatif dalam mengembangkan kurikulum yang lebih fleksibel,
sekaligus memiliki jejaring yang lebih luas dengan perguruan tinggi lainnya, dunia
industri dan lembaga-lembaga di luar PT. Dosen juga dituntut mampu
berkomunikasi dengan baik guna menjalin kerjasama dalam sistem pembelajaran
yang berbeda dengan sebelumnya. Dosen tidak hanya berkegiatan di dalam kampus
namun juga dituntut aktif melakukan penelitian, mencari dan menyelesaikan
permasalahan-permasalahan dari luar kampus sebagai bahan pembelajaran bagi
mahasiswa di dalam kelas (case study materials). Kegiatan dosen di luar kampus
ini menjadi salah satu Indikator Kinerja Utama (IKU) pada Perguruan Tinggi
khususnya pada IKU ke-3 sesuai dengan Permendikbud No. 3 tahun 2021. Salah
satu bentuk kegiatan dosen di luar kampus adalah kegiatan magang dosen. Dosen
dapat melaksanakan kegiatan magang pada industri maupun pada perguruan tinggi2
yang unggul sehingga kegiatan magang mempunyai nilai strategis bagi perguruan
tinggi pengirim maupun dosen yang bersangkutan.

Berdasarkan data dari Global Competitiveness Report untuk Indonesia,
aspek yang paling penting untuk ditingkatkan adalah pelatihan dan pendidikan
tinggi serta inovasi. Oleh karena itu, sangat penting untuk meningkatkan kualitas
pendidikan tinggi sebagai kekuatan pendorong utama untuk pelatihan dan
pendidikan tinggi serta inovasi. Tidak hanya mahasiswa, dosen juga dituntut untuk
memiliki karakter 4Cs (Critical Thinking/Problem Solving, Creativity,
Communication dan Collaboration).

Kemampuan seperti ini tidak bisa diperoleh dengan serta merta, namun memerlukan suatu proses pelatihan yang terstruktur. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa dosen dengan kualifikasi 4Cs
tersebut sangat jarang dan umumnya hanya terkonsentrasi di beberapa perguruan
tinggi tertentu saja, terutama di perguruan tinggi unggul di Indonesia. Untuk
menekan disparitas kualitas, baik antara dosen peserta magang dan dosen senior
maupun antara perguruan tinggi maju dan sedang berkembang, diperlukan adanya
upaya yang nyata. Salah satunya adalah dengan program memagangkan para dosen
peserta magang di bawah bimbingan dosen-dosen senior di perguruan tinggi yang
sudah dikategorikan sebagai perguruan tinggi maju.

Program Magang ini telah dirintis oleh Direktorat Jenderal Pendidikan
Tinggi sejak tahun 80-an. Tahun 2005 diaktifkan kembali sejalan dengan perubahan
status beberapa Perguruan Tinggi Swasta menjadi Perguruan Tinggi Negeri. Saat
ini program Magang diperluas mencakup Perguruan Tinggi Swasta (PTS).
Sejak diumumkan oleh pemerintah tanggal 11 Maret 2020 dinyatakan
bahwa pandemi Covid-19 merupakan bencana nasional dan sampai saat ini masih
belum kembali normal seperti sedia kala maka Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan telah mengambil kebijakan terkait proses belajar mengajar di
Pendidikan Tinggi. Berdasarkan Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan
Dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri
Republik Indonesia Tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Tahun
Ajaran 2020/2021 dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa Pandemi Corona Virus
Disease (COVID-19) proses belajar mengajar dilakukan secara daring dan luring
(hybrid learning). Oleh karena itu program magang juga disesuaikan dengan
kondisi tersebut, namun tidak mengurangi tujuan yang telah ditetapkan dalam
program magang.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar