Poltas Gelar Lokakarya Baik Praktek Politeknik Dalam Penyediaan SDM Bidang Pertambangan

Tapaktuan, Poltas.ac.id | Politeknik Aceh Selatan terus melakukan berbagai tinjauan muatan kurikulum berbasis kompetensi Dunia Usaha dan Industri (Dudi) dengan menggelar lokakarya.

Adapun narasumbernya yaitu Lina Rianti, ST., MT Ketua Program Studi Teknik Pertambangan Batubara, Politeknik Akamigas Palembang dengan Konsentrasi Mineral dan Batubara (Minerba). Kegiatan tersebut dilaksanakan via zoom dengan melibatkan manajemen Poltas dan para dosen. Rabu (29/11/23).

Politeknik Akamigas Palembang telah banyak melakukan berbagai terobosan penyusuaian kurikulum dengan stakeholder. Saat ini para alumninya telah banyak bekerja di industri pertambangan.

Lina Rianti dalam presentasinya membeberkan beberapa prinsip manajemen mutu diantaranya, Customer Focus, Leadership, Engagement of People, Process Approach, Improvement, Evidence Based Decision Making, And Relation Management.

“Kurikulum pembelajaran harus disesuaikan dengan penguna lulusan (user), dan diikuti rencana pembelajaran yang disusun untuk kegiatan pembelajaran selama satu semester guna memenuhi capaian pembelajaran lulusan yang dibebankan pada suatu mata kuliah,” kata Lina Rianti.

Lanjutnya, sumberdaya dosen dan tendik harus dikelola dengan baik, dibina, diberdayakan, difasilitasi untuk mengoptimalkan kompetensi mereka supaya lebih berkembang.

“Berikan juga kewenangan kepada program studi untuk menentukan arah tujuan prodi, termasuk pemenuhan sumberdaya yang dibutuhkan, dan selanjutnya berkoordinasi dengan direktur atau manajemen kampus,” imbuhnya.

Direktur Poltas Ir. Nuzuli Fitriadi, ST., MT dalam sambutannya mengatakan, pada lokakarya kali ini diharapkan sebagai sharing pengetahuan dan untuk mengetahui tantangan dimasa depan, khususnya pengembangan program studi teknik industri Politeknik Aceh Selatan.

“Di Aceh Selatan adanya potensi pertambangan batu marmer dan bijih besi, namun masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan daerah penghasil bahan tambang seperti pulau Kalimantan. Kemudian disini pun masih terjadi berbagai masalah sosial, dan penolakan masyarakat,” kata Nuzuli.

Peninjauan kurikulum mutlak dilakukan supaya jelas arah kompetensi prodi teknik industri, dan menyangkut peluang lapangan kerja. Bila para alumni membuka pengolahan manufaktur batu marmer, tentu membutuhkan biaya yang cukup besar, pungkasnya. (*).